Tradisi Bakar Batu
Jembatan Budaya dan Administrasi di Tanah Papua“Surga kecil yang jatuh ke Bumi yang terletak di ujung Timur Indonesia yaitu Papua”
Itulah
julukan yang melekat dengan Papua. Indonesia, sebagai Negara kepulauan terbesar di Dunia,
memiliki beragam Suku, Budaya, dan Bahasa yang tersebar di 38 Provinsi. Papua memiliki
sejarah panjang dalam Administrasi Pemerintahan, dengan sistem Pemerintahan Tradisional
yang dipimpin Oleh Kepala Suku atau Adat. Pengaruh luar seperti kolonialisme
Belanda dan agama Kristen juga membentuk budaya administrasi di Papua. Papua
merupakan tanah yang kaya akan budaya
dan tradisi, memiliki keunikan tersendiri dalam hal administrasi pemerintahan.
Tradisi dan budaya administrasi di Papua tidak hanya menjadi bagian dari
identitas masyarakat, tetapi juga memainkan peran penting dalam membentuk
sistem pemerintahan yang efektif.
Provinsi
yang terletak di bagian Timur Indonesia ini masih memiliki tradisi dan budaya
yang masih sangat kental dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat tentu
hal ini berdampak juga kepada sistem pemerintahan yang berjalan di papua. Dalam
membangun administrasi pemerintahan di Papua, penting untuk mengintegrasikan
tradisi dan budaya lokal dengan modernisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan
memahami dan menghormati nilai-nilai adat dan tradisi masyarakat Papua, sembari
menerapkan prinsip-prinsip Administrasi modern yang efektif dan efisien.
Pemberdayaan masyarakat adat juga menjadi kunci dalam membangun administrasi
pemerintahan yang efektif di Papua. Dengan memberikan ruang bagi masyarakat
adat untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, kita dapat
membangun sistem pemerintahan yang lebih inklusif dan responsive
Dalam konteks administrasi, penting untuk memahami bahwa adat dan budaya papua memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara masyarakat mengelola berbagai aspek kehidupan, termasuk pemerintahan oleh karena itu pendekatan yang mengakomodasi nilai-nilai adat akan lebih efektif dalam mencapai tujuan pembangunan dan kesejahtraan masyarakat Papua. Tradisi dan budaya administrasi di Papua sampai sekarang masih kental dengan sistem adat salah satu nya adalah upacara Bakar Batu adalah ritual adat yang dilakukan oleh berbagai suku di Papua, seperti Suku Dani, Lani, dan lainnya. Bakar Batu yang melambangkan persatuan, rasa syukur, perayaan, dan pemecahan masalah sosial dapat menjadi bagian dari proses musyawarah atau penyelesaian konflik. Tradisi seperti Bakar Batu bisa mempengaruhi budaya kerja birokrasi secara tidak langsung, Misalnya, pengambilan keputusan musyawarah yang juga diterapkan dalam proses administrasi lokal. Penghormatan terhadap adat sering kali mempengaruhi proses pemerintahan atau penyusunan kebijakan lokal, terutama yang menyangkut tanah adat dan masyarakat adat.
Sebagai contoh Seorang kepala suku mengundang masyarakat untuk membahas program pembangunan kampung, dan pertemuannya dilakukan dalam rangkaian acara bakar batu. Dalam suasana itulah, disampaikan informasi kebijakan yang akan di lakukan sekaligus mendengar aspirasi warga dalam program yang akan di jalankan nantinya serta melakukan pengambilan keputusan secara bersama-sama saat itu juga. Ini merupakan perwujudan budaya administrasi yang memanfaatkan mekanisme tradisional. Walaupun seringkali masih kelihatan menjadi provinsi yang tertinggal namun Papua terus berupaya meningkatkan sistem Administrasi dengan membuat inovasi-inovasi terbaru yang mendukung berlangsungnya pelayanan administrasi di Papua. Hal ini di buktikan di Dukcapil Timika Papua Tengah dengan terus membuat sistem inovasi baru. Beberapa inovasi yang telah berhasil di lakukan dan masih di gunakan sampai sekarang oleh Dukcapil Timika ialah Pinang Dukcapil, Goes To Campus, Dukcapil Siaga, Café Adminduk, Jok Merrieid, Lala Pu Kaka, Kanda Sip, Jempol Adminduk dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukan bahwa Tradisi Budaya Administrasi di Papua memang masih kental dengan adat setempat, namun mereka tidak menutup diri dari hal baru (Modernisasi).perbedaan
yang mencolok dari sistem administrasi di papua di bandingkan dengan provinsi
lainya ialah Papua memiliki sistem administrasi dan informasi yang berbasis
web, seperti SAIK (Sistem Administrasi dan Informasi Kampung) dan SAID (Sistem
Administrasi dan Informasi Distrik/Kecamatan). Sistem ini dirancang untuk meningkatkan
kinerja pemerintahan dan pembangunan di tingkat kampung dan distrik. Dari data
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah provinsi Papua Barat telah bekerja
sama dengan pemerintah Australia melalui program KOMPAK untuk mengembangkan
sistem administrasi dan informasi kampung dan distrik. Hal ini bertujuan untuk
meningkatkan kinerja pemerintahan dan pembangunan di tingkat kampung dan
distrik. Meskipun sistem pemerintahan sekarang harus lebih moderen namun
tradisi budaya di Papua terus di lestarikan dan terus akan di gunakan berjalan
berdampingan dengan sistem Administrasi moderen untuk itu Pemerintah Provinsi
Papua berupaya melestarikan budaya lokal melalui berbagai kegiatan, seperti
pertunjukan seni dan hiburan rakyat. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika
Provinsi Papua, Kansiana Salle, mengimbau generasi muda Papua untuk mencintai
dan melestarikan budaya lokal yang semakin terkikis oleh interaksi media sosial
dan adat istiadat moderen.
Sebagai penulis tentu sungguh besar harapan Saya untuk melihat budaya Administrasi yang berjalan saat ini yaitu budaya Administrasi yang sehat jauh dari Birokrasi yang kaku dan tidak adaptif, korupsi dan nepotisme, pelayanan yang buruk, dan kebijakan tidak berbasis data. apa lagi Papua memiliki segudang potensi alam yang jika di kelola dengan budaya Administrasi yang baik maka harapan Indonesi Emas di Tahun 2030 akan menjadi nyata.